Berkumur saat puasa ??,, Sholat tahajud setelah Tarawih??

Berkumur saat puasa ??,, Sholat tahajud setelah Tarawih??


    Assalamu’alaikum Engyno-enginiers .. :) Berikut ada penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaan yang kerap muncul saat kita sedang melaksanakan puasa, hanya perihal sederhana sebenarnya tetapi cukup membingungkan, biar ngga bingung lagi kita intip-intip yuk penjelasan berikut, itung-itung nambah khasanah ilmu kita,, monggoo ..


Berkumur saat Puasa, Batalkah??

Pertanyaan :
           Apabila kita sedang puasa bolehkah kita tidak berkumur (dalam berwudhu) karena takut air tertelan?

Jawaban : “Persoalan tidak berkumur, ya tentu boleh-boleh saja. Karena berkumur itu hanyalah sunat hukumnya. Apalagi di bulan puasa. Syafi'iyah justru memakruhkan berkumur (baik saat berwudhu atau tidak) bagi orang berpuasa, setelah lewat tengah hari. Karena kumur-kumur bisa menghilangkan bau mulut (khaluuf). "Bau mulutnya (khaluuf) orang puasa nanti di hari kiamat lebih utama bagi Allah dari minyak Kasturi".

Namun ada juga yang tidak memakruhkan, hukumnya mubah (boleh). Menurut pendapat ini, khaluuf itu bersumber dari dalam, tidak semata-mata dari mulut. Karenanya, kalaupun kita menggosok gigi atau berkumur, tetap saja khaluuf itu ada.


Pertanyaan

Apakah saat puasa menggunakan obat kumur supaya menyegarkan napas itu berdosa? Saat puasa juga bibir sangat kering, sehingga banyak yang mengelupas. Kalau kulit kering itu ditelan apakah membatalkan puasa?

Jawaban

“Hukum berkumur baik dengan air atau obat kumur bagi orang yang sedang berpuasa sesuatu yang diperbolehkan. Namun dilakukan secara berhati-hati dan tidak berlebih-lebihan agar tidak ada yang tertelan dan masuk ke dalam perut.

Meskipun demikian, apabila dia melakukannya lalu ada yang masuk ke dalam perut padahal sudah berhati-hati dan tanpa kesengajaan, maka puasanya tetap sah. Hal ini sama saja apabila kemasukan debu jalan, tepung, atau lalat yang masuk ke tenggorokannya. Semua ini termasuk ketidaksengajaan yang dimaafkan dan ditolerir sebagaimana firman Allah SWT, “… Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu....” (QS Al Ahzab: 5).

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Diangkat (tidak dianggap salah) umatku mengenai hal-hal yang dilakukan karena khilaf (tidak sengaja), lupa, dan terpaksa.” (Lihat Fatawa Mu'ashirah, DR. Yusuf Al-Qardhawi, Jilid 1, hal. 407, 428)

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, segala sesuatu yang masuk ke dalam tenggorokan kita tanpa kesengajaan maka termasuk yang dimaafkan dan ditolerir, namun apabila saudari menelan kulit bibir yang terkelupas dengan sengaja maka hal itu termasuk membatalkan puasa. Mudah-mudahan penjelasannya bermanfaat.

Wallahu a'lam bisshawab

Bisakah Salat Tahajud Setelah Witir?

Pertanyaan

Assalamualaikum Wr, Wb,

Saya ingin bertanya apabila kita sudah melaksanakan salat Witir (salat penutup), masih bisakah melaksanakan salat Tahajud?

Wassalamualaikum wr, wb.


Jawaban:

“Diperbolehkan bagi orang yang sudah melaksanakan salat Tarawih untuk menambah salat malam dengan salat Tahajud. Hanya saja, kami menyarankan dua hal:

Pertama, hendaknya ikut imam sampai selesai dan jangan pulang sebelum imam melakukan Witir. Tujuannya, agar kita mendapatkan keutamaan sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, “Siapa saja yang ikut salat Tarawih berjamaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti salat semalam suntuk.” (HR Abu Daud dan Turmudzi; dinilai sahih oleh Al-Albani).

Selanjutnya apabila Anda ingin melaksanakan salat Tahajud di akhir malam, maka tidak perlu melakukan Witir lagi, sebagaimana hadits Nabi saw, “Tidak boleh ada dua Witir dalam satu malam.” (HR Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani).

Dalam Fatwa Lajnah Daimah (6:45) disebutkan, “Jika Anda salat Tarawih bersama imam, maka yang lebih utama adalah melakukan Witir bersama imam agar mendapatkan pahala sempurna, sebagaimana disebutkan dalam hadits, "Barang siapa yang ikut salat Tarawih berjamaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti salat semalam suntuk.” (HR Abu Daud dan Turmudzi).

Kedua, Ketika imam salam saat salat Witir, Anda berdiri dan menggenapkannya dengan satu rakaat, sehingga Anda belum dianggap melakukan Witir.

Kemudian, di akhir malam, Anda bisa salat Tahajud dan diakhiri Witir. Seikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin mengatakan,” “Apabila orang yang hendak salat Tahajud mengikuti imam dalam salat Witir maka hendaknya dia genapkan, dengan dia tambahkan satu rakaat. Ini adalah salah satu cara untuk orang yang hendak Tahajud.

Dia ikut imam dalam salat Witir dan dia genapkan rakaatnya dengan menambahkan satu rakaat, sehingga salatnya yang terakhir di malam hari adalah Witir. Dengan cara ini, dia akan mendapatkan dua amal: mengikuti imam sampai selesai dan dia juga mendapatkan sunah menjadikan akhir salat malam dengan Witir. Ini adalah satu amal yang baik.” (Syarhul Mumthi’, 4:65–66). Mudah-mudahan penjelasannya bermanfaat.

Wallahu a'lam bisshawab.

Kabar Populer

Mengapa Suara Manusia Berbeda-beda?

HUKUM GOSIP, GHIBAH, FITNAH, INFOTAINMENT

KOTA TERBERSIH SEDUNIA